Thursday, November 29, 2012

Syukur Tak Semudah Tutur

pernahkah kalian melihat maling ayam dihukum oleh masyarakat dengan cara dibakar hidup-hidup?
pernahkah liat maling sandal jepit di masjid dihajar massa sampai babak belur?
dan pernahkah liat pencuri celana dalam wanita dipukuli habis-habisan oleh masyarakat?

ternyata memang masyarakat kita masih menganut hukum "agak-agak rimba", gue pun nggak ngerti dengan alasan tersebut. istilah main hakim sendiri itu sepertinya apresiasi masyarakat terhadap hukum yang melemah di negara kita. bayangkan kawan, maling ayam yang dibakar hidup-hidup oleh masyarakat. apakah kalian tak miris mendengarnya? sedangkan yang meraup uang rakyat miliaran rupiah, bahkan triliunan rupiah masih bebas melenggang dengan mobil mewah. masih menikmati asiknya duduk di sofa empuk ditemani secangkir kopi hangat. kadang pergi plesiran keluar negeri, dengan tanpa beban. hukum kita ini timpang bukan main. hukum kita oleng. hukum di negeri kita itu bak kapal karam akibat hantaman ombak yang menabrakan kapal kita ke karang yang besar. hukum kita ibarat kerupuk, terendam air langsung menciut tak berguna tak bisa dimakan. dan anehnya, semua sadar akan hal itu. namun masing-masing orang hanya acuh dan seakan pura-pura tak tahu. malah, pura-pura tak mendengar bahwa jeritan masyarakat kaum bawah amat memekikkan telinga.
masih banyak masyarakat miskin yang tak mampu membeli beras walau hanya satu liter. tempat tinggal yang tak layak. sepertinya pemerataan sosial hanya nyanyian belaka. apa inti dari pemerataan sosial? memaksa rata dan merata-ratakan yang tak rata, jika tak bisa rata ya tak usah diratakan. tak usahlah ke pelosok negeri diujung pulau sana. kita lihat di ibukota saja, yang katanya magnet besar bagi para pendatang untuk mencari penghasilan lebih. di ibukota pun kadang masih terlihat dengan jelas bangunan terbuat dari triplek kayu teronggok bagaikan kotoran tak dihiraukan. di bantaran kali, bahkan di pinggir rel. sedangkan yang kaya, asik tidur di ranjang empuk dengan tiupan AC yang menyejukkan. membuat mimpi dipastikan indah.

kenapa gue nge-bahas seperti ini? ini pun adalah jeritan hati gue yang telah lama gue pendam. melihat dan meyaksikan kesusahan orang lain tanpa membantunya adalah salah satu dosa besar. tak muluk sebenarnya, jika tak mampu membuat hidup rakyat miskin berubah menjadi lebih baik. paling tidak meringankan beban mereka. ada setitik cita-cita dalam otak gue yang akhir-akhir ini menggelayut bak orang utan. kalau sukses nanti, ingin gue membuka sebuah lapangan pekerjaan untuk mereka. apapun pekerjaannya, yang jelas menaungi orang-orang miskin adalah cita-cita yang mulia. ketimbang menjadi politisi atau gubernur atau bupati atau anggota dewan atau presiden sekalipun, jika tak ada niat memperbaiki saudara yang kesusahan, tentunya tak akan terlaksana.
cita-cita merupakan doa yang tak terucapkan. jika doa yang baik, maka malaikat akan mencatatnya. kalaupun doa itu belum terkabulkan setidaknya kita sudah mendapat pahala atas doa yang baik tersebut. begitulah yang gue pelajari dulu. menjadi orang kesusahan amatlah tak menyenangkan, semua terbatasi. semua dikotaki. keinginan yang tak tercapai membuat pikiran menjadi ikut-ikutan tak tenang. dan jangan salah, menjadi orang yang bersyukur jauh lebih sulit. menempatkan rasa syukur diatas segalanya memang sulit, dan belajar mensyukuri apa yang telah diberikan sulit juga. lalu? belajar bersyukurlah. gue pernah mengutip dari twitter seorang yang terkenal di negeri ini. ia adalah seorang musisi senior di ibu pertiwi. beliau bilang "bersyukur obat paling mujarab macam2 penyakit", "walaupun tak semudah tutur tapi itulah nyatanya kekuatan bersyukur", "tapi memang perlu latihan utk bisa bersyukur. selamat berlatih" -@iwanfals-

jadi, apakah kita sudah menjadi orang yang selalu bersyukur? atau baru ingin belajar cara bersyukur?

@vikryviik

No comments:

Post a Comment