Thursday, November 22, 2012

Lukisan Hujan Tak Terbayangkan

hujan..
jakarta akhir-akhir ini sering diguyur air yang dimuntahkan dari langit. awan hitam sering nampak dilangit ibukota. dipenghujung November hujan sudah rajin menyapa jakarta. membuat genangan air terbuat di jalan jalan. indah, namun banyak keluh kesah tak bersyukur. padahal, hujan adalah sebuah anugerah yang Tuhan turunkan untuk umat-Nya. tak pandang ia beriman ataupun berdosa. tak memilih ia bertakwa tau tidak. tak pandang bulu ia bersyukur atau kufur. tak melihat ia sering berdoa atau berhura-hura. ternyata Tuhan memang Maha Adil. patutnyalah kita menengadahkan tangan mengucap syukur.

seperti sore ini. sejak jarum jam berhenti lama diangka tiga, hujan mulai turun rintik-rintik. tetesannya kecil namun membahana turun ke tanah. membasahi daun-daun yang memenuhi lengan dahan-dahan. mempercantik rerumputan, karena airnya membuat kemilau bias diatas rerumputan. melahirkan embun dikaca-kaca. menyegarkan hati yang gundah gulana. kilatan petir melukis indah dilangit gelap. bergemuruh saling sahut. meledak diujungnya. membuat kilatan cahaya putih nan menyeramkan. namun tak membuat gentar gedung-gedung tinggi di ibukota. mereka angkuh. mereka raja. mereka berdiri tegap. mereka tak bergeming.
jarum jam perlahan merangkak ke angka empat. langkahnya seperti terseok-seok. dipaksa bergerak. dituntut pindah, dan diperintahkan pergi. hujan makin deras. tak lagi rintik-rintik. berkelompok. tetesan airnya kini lebih besar. lebih padat. dan lebih banyak. angin memberi andil di sore ini. menggoyangkan pepohonan. membuat beberapa dedaunan lepas dari dahan. mengoyak-ngoyak. kabel listrik bergerak-gerak. terlilit pedih diatas tiangnya. geraknya tak menentu. angin membuatnya makin kemayu. tak berpendirian. kabel yang membentang tertiup, tersapu, dan terkulai. angin makin ganas, seperti tak mau kalah dari gemuruh petir dilangit. menggoyang tenda-tenda makanan dipinggir jalan. mengibarkan bendera negara yang lemah diatas tiangnya. titik-titik air terhempas dari dedaunan, meninggalkannya dan jatuh ke tanah. sore yang syahdu berubah menjadi kelabu.

aku dan teman yang semula menikmati keindahan hujan rintik-rintik berubah menjadi gelisah. tampias air membentuk gradasi warna tak menentu di layar laptop. warnanya kadang merah, kadang hijau, sebentar jingga, kemudian berubah menjadi ungu. tergantung dari arah mana kita melihatnya. titik-titiknya makin banyak. sejurus kemudian berubah menjadi tetesan. seorang wanita dengan seorang pria disampingku tampak asik menikmati suasana tersebut. mereka sibuk dengan handphone yang dipegang masing-masing orang. tak mempedulikan gemuruh petir, acuh akan angin yang bertiup kencang, dan melengos melihat air hujan yang tampias ke lantai toko tersebut. suasana makin tak menentu dengan air yang menggenang bebas di lantai toko ini. alirannya tak menentu. seperti tak mendapat tujuan. terombang ambing dilantai penuh debu, yang merubah warna air tersebut. aku dan temanku kini sibukmenyelamatkan laptop dan minuman sore kami. karna hujan makin deras, kami takut kopi hangat yang kami beli berubah menjadi kopi dingin. walaupun, aku tak mempedulikan hal tersebut. aku yakin akan manfaat air hujan yang mengandung vitamin B12 itu.

langit berubah menjadi semakin gelap. tak terasa jarum jam kini bercokol diangka enam. diam-diam ia bergerak, mengumpat dan tak bersuara. dikejauhan sayup-sayup terdengar adzan maghrib. suara merdu khas muazdin tingkat nasional merangkak pelan menuju telingaku. suaranya terhalang deru hujan sore ini. namun kemegahan asma Tuhan itu tak dapat dipungkiri keindahannya. penuh makna yang teramat dalam. berisi ajakan kebaikan yang sengaja Tuhan wahyukan kepada umat Muhammad. beruntungnya kita menjadi umatnya.
jalan dipenuhi kendaraan. berbaris bagai semut didinding. lampunya menyilaukan. sore ini, jalan seperti hidup. bersorak-sorai, saling bersahutan klason. ada hasrat yang memuncak bagi pengendara untuk cepat tiba dirumah masing-masing.

sedangkan aku dan kawanku, masih duduk termenung melihat titik-titik hujan yang tak kunjung sudah. menahan rasa lapar yang mulai menggelayuti lambung. mencoba tenang dan tampan dalam suasana hujan deras. aku melihat langit, dan subhanallah betapa indah karunia Tuhan yang telah diturunkan sore ini. diatas langit kelam, kilatan petir yang tak bersuara membentuk lukisan indah tak berkarya. menyiratkan pesan rahasia didalamnya, membuat pandangan terpana, dan membuat sajak terbaca jelas serta indah.

saat asap kopi mengepul digelas kedua, aku bersyukur bersimpuh mengadu atas kelemahanku sebagai seorang hamba...


@vikryviik

2 comments: