matahari siang ini sungguh terik. Gugun masih sibuk dengan keranjang besar yang ia pikul. saat anak seumurannya sedang duduk dikelas dan mendengarkan penjelasan dosen, ia malah berpanas-panasan di jalan mencari barang-barang bekas untuk dijadikan uang. ironis memang melihat Gugun. tapi semua ia jalani dengan kesabaran dan tanpa mengenal lelah. sejak ibunya terserang lumpuh dan ayahnya pergi meninggalkan keluarganya bersama janda kaya. Gugun harus memikul beban keluarga untuk terus menghidupi ibu dan adik-adiknya. tiga orang adiknya yang masih kecil-kecil harus ia tanggung sepenuhnya. Mia yang masih sekolah tingkat dasar. Husni yang baru lima tahun dan adik terkecilnya Rizky yang masih berumur dua tahun. semua harus Gugun hidupi.
matahari masih saja terik. membuat peluh Gugun makin deras mengalir dari pori-pori kulitnya. kulitnya yang hitam karena terbakar matahari harus rela disinggahi debu jalanan. badannya yang sedikit pendek harus bersusah payah mengangkat keranjang besar berisi gelas-gelas plastik dan botol-botol plastik yang terisi penuh. hanya ini mata pencariannya. dan hanya gelas-gelas dan botol-botollah yang nantinya akan melanjutkan hidupnya. hasil dari mencari barang-barang bekas ia belikan keperluan rumah. dari makan untuk ibunya yang lumpuh dan keperluan sekolah adiknya. terasa kurang memang, namun ia selalu bersyukur dan menyisihkan sebagian uang hasil mencari barang bekas. ia masih memendam cita-cita untuk kuliah. ya, hanya kuliah yang ia inginkan. ia tak mau dipandang sebelah mata oleh orang-orang. ia harus menjadi seseorang yang berhasil. yang bisa menghidupi keluarganya secara layak dan mengobati ibunya kelak.
aspal jalan memang sangat panas. Gugun masih berjalan dengan sandal jepit tipisnya. entah sudah berapa bulan sandal ini menemaninya menyusuri jalan-jalan ibukota. mungkin sudah tak layak pakai. tapi apa boleh buat. daripada membeli sandal baru, lebih baik uangnya ia belikan makanan untuk adik-adik dan ibunya.
rutinitas setelah mencari barang bekas adalah mengajar. ya, dia adalah seorang guru yang mengajar anak-anak jalanan yang tidak mampu sekolah. bertempat dikolong jalan besar, kelas jalan dibuka untuk para anak jalanan yang ingin belajar. saat orang kaya menyekolahkan anaknya di sekolah alam, Gugun hanya bisa membuka kelas sekolah jalanan. bermodal triplek tipis bekas bangunan dan sepotong kecil kapur-kapur bekas, Gugun mengajar. walau tidak dibayar, ada kepuasan tersendiri yang ia rasakan dari mengajar anak-anak yang tak mampu sekolah. nuraninya tergerak untuk saling membantu sesama anak jalanan. dua jam mengajar. dari membaca, menulis, berhitung, ilmu agama, sampai mengajar praktek ibadah. saat jam mengajar telah usai, Gugun pun kembali kerumah. gubuk petak berukuran 4x3 m adalah tempatnya berteduh dari hujan. terbuat dari seng, jika siang hari panasnya seperti di microwave. jika malam, dinginnya layak di kulkas.
adiknya, Husni dan Mia sedang asik duduk di bale bambu depan rumah saat Gugun pulang. entah apa yang mereka lakukan. tapi terlihat gembira.
"Assalamualaikum" salam Gugun.
"Waalaikumsalam. eh, Bang Gugun pulang" jawab Mia dan Husni.
"Lagi ngapain kalian berdua?" tanya Gugun setelah meletakkan keranjang besarnya.
"Ini bang, Mia tadi nemuin mainan bekas. masih bagus deh. ini Mia kasih buat Usni" jelas Mia.
"Waah, bagus betul mainannya" lanjut Gugun.
Gugun membiarkan dua adiknya bermain. ia kedalam untuk melihat keadaan ibunya yang amat ia sayangi. namun belum sampai ia mencium tangan ibunya, seseorang memberi salam didepan rumah. ia pun kembali keluar.
"Assalamualaikum" salam seorang bapak. berkumis dengan kemeja putih polos, serta celana panjang coklat tua.
"Waalaikumsalam. ada perlu apa pak?" tanya Gugun seraya melemparkan senyum.
"Ini rumah Ibu Salmah?" tanya bapak tersebut.
"Iya betul. ada apa ya pak? saya anaknya, Gugun" jawab Gugun dengan menyodorkan tangan kanannya. dan bersalaman.
"Ini ada surat de buat ibu. dari bapaknya"
"oh. terima kasih pak"
setelah mengantar surat, bapak berkumis itu pun pamit. meninggalkan Gugun dengan seribu tanda tanya. surat apa ini? "surat buat ibu dari bapaknya" kata-kata inilah yang membuat Gugun makin tak mengerti. ia pun keruangan tempat ibunya terbaring lemah. mencium tangan ibunya.
"Tadi siapa Gun?" tanya ibunya.
"Ada orang nganter surat. surat ini buat ibu katanya. ini bu" Gugun menyerahkan surat tersebut. tak mau ia membaca surat yang ditujukan untuk ibunya. ia beranjak meninggalkan ibunya. pergi kebelakang rumah yang dijadikan dapur olehnya. membuat api dari kayu bekas. memasak air. kegiatannya terhenti ketika mendengar suara tangis ibunya didalam. Gugun setengah berlari menuju kamar ibunya. tanda tanya menggelayut indah di otaknya. ada apa gerangan? Gugun menghampiri ibunya. memegang tangan ibunya. menenangkan ibunya.
"Ada apa bu?" tanya Gugun. ibunya masih tetap menangis dengan genggaman surat dari bapak berkumis. erat. sangat erat digenggam surat itu.
"Kenapa bu?" tanya Gugun lagi. ibunya masih menangis, tapi menyerahkan surat itu kepada Gugun untuk dibacanya. Gugun masih memeluk erat tubuh ibunya yang lemah. mengambil surat dari tangan ibunya. dan dibacanya.
terkejut bukan main ketika ia membaca surat yang berisi penahanan kepada Bapak Jamal yang didapati memakai narkoba disebuah rumah kontrakan. ya, Bapak Jamal adalah ayahnya. ayah yang mencampakkan keluarganya demi janda kaya. ayah yang tak peduli dengan kondisi keluarganya. ayah yang melupakan ibu yang sangat dicintainya. ayah yang sudah tak dianggap lagi oleh Gugun. dalam hati ia bersorak. ia menang. ia bersungut-sungut. namun hati kecilnya di lubuk yang paling dalam, ada setitik iba yang terpancar. biar bagaimana pun Jamal tetap ayah kandungnya.
"Gun." sergah ibunya pelan.
"Kenapa bu?"
"Ibu tau, sakit hatimu kepada bapak. ibu sangat paham Gun"
Gugun hanya diam, menunggu ibunya melanjutkan kata.
"Tapi dia tetap ayah kandungmu. ibu mohon Gun. ibu sangat memohon, tolong bebaskan bapakmu Gun!"
kepala Gugun berasa disambar petir. otaknya meleleh. tubuhnya lemas. sendi-sendinya mengeropos. tangannya kaku. pikirannya berkecamuk. berperang dengan batinnya. antara kebencian yang ia rasakan dengan permohonan sang ibu bergejolak liar dalam dadanya. sesak. ususnya melilit. Gugun tak dapat berkata-kata.
"Ibu mohon Gun. pakai uang tabunganmu untuk membebaskan bapak Gun" lanjut ibunya.
pikirannya makin meledak-ledak. dadanya makin sesak. seakan kakinya tak dapat menopang berat tubuhnya yang ringan. ia harus memilih, antara cita-cita yang ingin ia raih dengan ayahnya yang sangat dibencinya. namun air mata ibunya tak sanggup ia lihat lagi. setelah semua yang ia lewati dengan ibu dan adik-adiknya. ia tak ingin melihat orang terkasihnya menagis lagi. Gugun masih terdiam. menetes cairan hangat dari sela-sela matanya. ia menangis. pelukan ibunya makin kuat. dan makin kuat. kali ini deras air matanya mengalir. pikirannya galau.
"Ibu mohon Gun" sekali lagi ibunya memohon kepada Gugun. ia masih diam membisu dengan air mata berderai membasahi pipinya. basah. dengan berat hati ia pun mengiyakan permohonan ibunya. ia harus merelakan uang tabungannya yang jumlahnya tidak sedikit. bertahun-tahun ia kumpulkan uang dari mengais barang-barang bekas. merangkai mimpi demi terwujudnya cita-cita. kini kandas. pelukan ibu menenangkannya dari rasa yang berkecamuk di dadanya. Gugun masih menangis, matanya masih mengurai air mata. air yang ia masak telah mendidih. ia pun beranjak ke belakang. memasak nasi untuk makan nanti malam. dengan air mata yang masih saja berderai. hati ibu yang membuat air mata Gugun makin deras mengalir. ia rela memaafkan dengan mudah suami yang telah menyia-nyiakan hidupnya selama beberapa tahun kemarin. hingga penyakit menggerogoti tubuhnya. Gugun bersumpah, jika suatu saat Pak Jamal menyakiti ibu yang sangat ia cintai untuk kedua kalinya, ia tak segan menganggap Pak Jamal bukanlah ayah kandungnya. karena permohonan ibu lah, Gugun rela memakai uang hasil menabungnya selama bertahun-tahun untuk membebaskan Pak Jamal dari penjara.
sebulan kemudian...
Pak Jamal, ayah Gugun telah berkumpul kembali bersama keluarganya. janda kaya itu menceraikan Pak Jamal akibat kelakuannya memakai narkoba. si janda tersebut tidak mau bertanggung jawab membebaskan Pak Jamal dari penjara. kemudian dilimpahkannya kepada keluarga Gugun. alhasil, uang tabungan Gugunlah yang dijadikan uang jaminan untuk membebaskan Pak Jamal. Pak Jamal menyesal melakukan hal tersebut. sekaligus menyesal telah meninggalkan keluarganya demi janda kaya tersebut. ibu Gugun juga telah memafkan Pak Jamal. namun, ada perasaan lain yang Gugun rasakan.
selama berada dirumah, Pak Gugun tidak memperlakukan ibu sebagai seorang istri. ia hanya berdiam diri dirumah dan jarang membantu ibu, jika ibu sedang kesusahan. meminta uang kepada Gugun yang bekerja seharian banting tulang. sedangkan Pak Jamal hanya duduk-duduk dan berkumpul dengan para tetangga. Gugun cukup kesal melihat kelakuan Pak Jamal. ia hanya menjadi benalu dikeluarganya sendiri. dan kadang menyusahkan Gugun dan ibunya. namun ibu selalu berpesan kepada Gugun untuk tetap sabar dalam menghadapi ayahnya.
siang ini Gugun kembali kepada rutinitasnya. bekerja keliling kota untuk mencari barang-barang bekas yang masih bisa dijadikan uang. setidaknya pekerjaan halalnya bisa menyambung hidupnya sekeluarga. beban Gugun makin berat sejak ayahnya tinggal kembali dirumah. selepas subuh Gugun sudah menenteng karung besar tempat barang bekas hasil pencariannya. matahari siang ini tak sejahat kemarin-kemarin. cuaca berawan dan angin yang berhembus sepoi-sepoi memberi semangat berbeda untuk Gugun. ia berjalan cukup jauh dari tempat biasa mencari barang bekas. lebih jauh, mungkin lebih banyak yang ia dapat. lagipula cuaca siang ini cukup bersahabat baginya. disebuah perumahan sepi ia berjalan sambil sesekali bersiul menikmati cuca siang ini.
jauh dari tempat biasa, ia masih berjalan. sampai satu kejadian menghentikan langkahnya hingga ia harus menajamkan pandangan matanya. ia melihat seseorang dikejauhan berlari tunggang langgang dan dikejar beberapa orang dengan mengacungkan pistol. dadanya berdegup kencang. napasnya tak teratur. tiba-tiba...
dorr...
kemudian disusul suara orang-orang berteriak. ia tak berani melihat kejadian itu. Gugun bersembunyi dibalik pohon, ditutupi semak-semak. dadanya naik turun. napasnya kacau. telinganya sakit. ia sangat ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi. namun lehernya tak bergerak sedikit pun. kaku. ia tak berani. pertanyaan membabi buta menghantam kepalanya. ia harus melihat. mengintip dengan hati-hati. memicingkan mata, agar terlihat jelas pandangan yang ditujunya.
beberapa orang dengan jaket kulit dan kaca mata hitam. yang lainnya berseragam. ya, polisi. memegang senjata. sekitar enam orang. di jalan, terkapar seorang dengan darah segar membasahi aspal. kepalanya seketika pening, melihat pemandangan yang tabu menurutnya. sebuah mobil petugas kepolisian datang menyusul. menghampiri kerumunan petugas dan orang-orang berjaket kulit. kemudian masyarakat berdatangan. melihat apa yang terjadi. rasa penasaran Gugun makin menjadi-jadi. ia ingin sekali melihat. tapi ia tak sanggup melihat darah. akhirnya rasa penasarannya mengalahkan ketakutannya. ia pun bergegas menuju kerumunan.
namun Gugun kaget bukan kepalang. ketika menghampiri kerumunan orang yang melihat mayat yang terbujur kaku tertembus timah panas polisi di bagian perutnya. orang itu adalah...
aspal jalan memang sangat panas. Gugun masih berjalan dengan sandal jepit tipisnya. entah sudah berapa bulan sandal ini menemaninya menyusuri jalan-jalan ibukota. mungkin sudah tak layak pakai. tapi apa boleh buat. daripada membeli sandal baru, lebih baik uangnya ia belikan makanan untuk adik-adik dan ibunya.
rutinitas setelah mencari barang bekas adalah mengajar. ya, dia adalah seorang guru yang mengajar anak-anak jalanan yang tidak mampu sekolah. bertempat dikolong jalan besar, kelas jalan dibuka untuk para anak jalanan yang ingin belajar. saat orang kaya menyekolahkan anaknya di sekolah alam, Gugun hanya bisa membuka kelas sekolah jalanan. bermodal triplek tipis bekas bangunan dan sepotong kecil kapur-kapur bekas, Gugun mengajar. walau tidak dibayar, ada kepuasan tersendiri yang ia rasakan dari mengajar anak-anak yang tak mampu sekolah. nuraninya tergerak untuk saling membantu sesama anak jalanan. dua jam mengajar. dari membaca, menulis, berhitung, ilmu agama, sampai mengajar praktek ibadah. saat jam mengajar telah usai, Gugun pun kembali kerumah. gubuk petak berukuran 4x3 m adalah tempatnya berteduh dari hujan. terbuat dari seng, jika siang hari panasnya seperti di microwave. jika malam, dinginnya layak di kulkas.
adiknya, Husni dan Mia sedang asik duduk di bale bambu depan rumah saat Gugun pulang. entah apa yang mereka lakukan. tapi terlihat gembira.
"Assalamualaikum" salam Gugun.
"Waalaikumsalam. eh, Bang Gugun pulang" jawab Mia dan Husni.
"Lagi ngapain kalian berdua?" tanya Gugun setelah meletakkan keranjang besarnya.
"Ini bang, Mia tadi nemuin mainan bekas. masih bagus deh. ini Mia kasih buat Usni" jelas Mia.
"Waah, bagus betul mainannya" lanjut Gugun.
Gugun membiarkan dua adiknya bermain. ia kedalam untuk melihat keadaan ibunya yang amat ia sayangi. namun belum sampai ia mencium tangan ibunya, seseorang memberi salam didepan rumah. ia pun kembali keluar.
"Assalamualaikum" salam seorang bapak. berkumis dengan kemeja putih polos, serta celana panjang coklat tua.
"Waalaikumsalam. ada perlu apa pak?" tanya Gugun seraya melemparkan senyum.
"Ini rumah Ibu Salmah?" tanya bapak tersebut.
"Iya betul. ada apa ya pak? saya anaknya, Gugun" jawab Gugun dengan menyodorkan tangan kanannya. dan bersalaman.
"Ini ada surat de buat ibu. dari bapaknya"
"oh. terima kasih pak"
setelah mengantar surat, bapak berkumis itu pun pamit. meninggalkan Gugun dengan seribu tanda tanya. surat apa ini? "surat buat ibu dari bapaknya" kata-kata inilah yang membuat Gugun makin tak mengerti. ia pun keruangan tempat ibunya terbaring lemah. mencium tangan ibunya.
"Tadi siapa Gun?" tanya ibunya.
"Ada orang nganter surat. surat ini buat ibu katanya. ini bu" Gugun menyerahkan surat tersebut. tak mau ia membaca surat yang ditujukan untuk ibunya. ia beranjak meninggalkan ibunya. pergi kebelakang rumah yang dijadikan dapur olehnya. membuat api dari kayu bekas. memasak air. kegiatannya terhenti ketika mendengar suara tangis ibunya didalam. Gugun setengah berlari menuju kamar ibunya. tanda tanya menggelayut indah di otaknya. ada apa gerangan? Gugun menghampiri ibunya. memegang tangan ibunya. menenangkan ibunya.
"Ada apa bu?" tanya Gugun. ibunya masih tetap menangis dengan genggaman surat dari bapak berkumis. erat. sangat erat digenggam surat itu.
"Kenapa bu?" tanya Gugun lagi. ibunya masih menangis, tapi menyerahkan surat itu kepada Gugun untuk dibacanya. Gugun masih memeluk erat tubuh ibunya yang lemah. mengambil surat dari tangan ibunya. dan dibacanya.
terkejut bukan main ketika ia membaca surat yang berisi penahanan kepada Bapak Jamal yang didapati memakai narkoba disebuah rumah kontrakan. ya, Bapak Jamal adalah ayahnya. ayah yang mencampakkan keluarganya demi janda kaya. ayah yang tak peduli dengan kondisi keluarganya. ayah yang melupakan ibu yang sangat dicintainya. ayah yang sudah tak dianggap lagi oleh Gugun. dalam hati ia bersorak. ia menang. ia bersungut-sungut. namun hati kecilnya di lubuk yang paling dalam, ada setitik iba yang terpancar. biar bagaimana pun Jamal tetap ayah kandungnya.
"Gun." sergah ibunya pelan.
"Kenapa bu?"
"Ibu tau, sakit hatimu kepada bapak. ibu sangat paham Gun"
Gugun hanya diam, menunggu ibunya melanjutkan kata.
"Tapi dia tetap ayah kandungmu. ibu mohon Gun. ibu sangat memohon, tolong bebaskan bapakmu Gun!"
kepala Gugun berasa disambar petir. otaknya meleleh. tubuhnya lemas. sendi-sendinya mengeropos. tangannya kaku. pikirannya berkecamuk. berperang dengan batinnya. antara kebencian yang ia rasakan dengan permohonan sang ibu bergejolak liar dalam dadanya. sesak. ususnya melilit. Gugun tak dapat berkata-kata.
"Ibu mohon Gun. pakai uang tabunganmu untuk membebaskan bapak Gun" lanjut ibunya.
pikirannya makin meledak-ledak. dadanya makin sesak. seakan kakinya tak dapat menopang berat tubuhnya yang ringan. ia harus memilih, antara cita-cita yang ingin ia raih dengan ayahnya yang sangat dibencinya. namun air mata ibunya tak sanggup ia lihat lagi. setelah semua yang ia lewati dengan ibu dan adik-adiknya. ia tak ingin melihat orang terkasihnya menagis lagi. Gugun masih terdiam. menetes cairan hangat dari sela-sela matanya. ia menangis. pelukan ibunya makin kuat. dan makin kuat. kali ini deras air matanya mengalir. pikirannya galau.
"Ibu mohon Gun" sekali lagi ibunya memohon kepada Gugun. ia masih diam membisu dengan air mata berderai membasahi pipinya. basah. dengan berat hati ia pun mengiyakan permohonan ibunya. ia harus merelakan uang tabungannya yang jumlahnya tidak sedikit. bertahun-tahun ia kumpulkan uang dari mengais barang-barang bekas. merangkai mimpi demi terwujudnya cita-cita. kini kandas. pelukan ibu menenangkannya dari rasa yang berkecamuk di dadanya. Gugun masih menangis, matanya masih mengurai air mata. air yang ia masak telah mendidih. ia pun beranjak ke belakang. memasak nasi untuk makan nanti malam. dengan air mata yang masih saja berderai. hati ibu yang membuat air mata Gugun makin deras mengalir. ia rela memaafkan dengan mudah suami yang telah menyia-nyiakan hidupnya selama beberapa tahun kemarin. hingga penyakit menggerogoti tubuhnya. Gugun bersumpah, jika suatu saat Pak Jamal menyakiti ibu yang sangat ia cintai untuk kedua kalinya, ia tak segan menganggap Pak Jamal bukanlah ayah kandungnya. karena permohonan ibu lah, Gugun rela memakai uang hasil menabungnya selama bertahun-tahun untuk membebaskan Pak Jamal dari penjara.
sebulan kemudian...
Pak Jamal, ayah Gugun telah berkumpul kembali bersama keluarganya. janda kaya itu menceraikan Pak Jamal akibat kelakuannya memakai narkoba. si janda tersebut tidak mau bertanggung jawab membebaskan Pak Jamal dari penjara. kemudian dilimpahkannya kepada keluarga Gugun. alhasil, uang tabungan Gugunlah yang dijadikan uang jaminan untuk membebaskan Pak Jamal. Pak Jamal menyesal melakukan hal tersebut. sekaligus menyesal telah meninggalkan keluarganya demi janda kaya tersebut. ibu Gugun juga telah memafkan Pak Jamal. namun, ada perasaan lain yang Gugun rasakan.
selama berada dirumah, Pak Gugun tidak memperlakukan ibu sebagai seorang istri. ia hanya berdiam diri dirumah dan jarang membantu ibu, jika ibu sedang kesusahan. meminta uang kepada Gugun yang bekerja seharian banting tulang. sedangkan Pak Jamal hanya duduk-duduk dan berkumpul dengan para tetangga. Gugun cukup kesal melihat kelakuan Pak Jamal. ia hanya menjadi benalu dikeluarganya sendiri. dan kadang menyusahkan Gugun dan ibunya. namun ibu selalu berpesan kepada Gugun untuk tetap sabar dalam menghadapi ayahnya.
siang ini Gugun kembali kepada rutinitasnya. bekerja keliling kota untuk mencari barang-barang bekas yang masih bisa dijadikan uang. setidaknya pekerjaan halalnya bisa menyambung hidupnya sekeluarga. beban Gugun makin berat sejak ayahnya tinggal kembali dirumah. selepas subuh Gugun sudah menenteng karung besar tempat barang bekas hasil pencariannya. matahari siang ini tak sejahat kemarin-kemarin. cuaca berawan dan angin yang berhembus sepoi-sepoi memberi semangat berbeda untuk Gugun. ia berjalan cukup jauh dari tempat biasa mencari barang bekas. lebih jauh, mungkin lebih banyak yang ia dapat. lagipula cuaca siang ini cukup bersahabat baginya. disebuah perumahan sepi ia berjalan sambil sesekali bersiul menikmati cuca siang ini.
jauh dari tempat biasa, ia masih berjalan. sampai satu kejadian menghentikan langkahnya hingga ia harus menajamkan pandangan matanya. ia melihat seseorang dikejauhan berlari tunggang langgang dan dikejar beberapa orang dengan mengacungkan pistol. dadanya berdegup kencang. napasnya tak teratur. tiba-tiba...
dorr...
kemudian disusul suara orang-orang berteriak. ia tak berani melihat kejadian itu. Gugun bersembunyi dibalik pohon, ditutupi semak-semak. dadanya naik turun. napasnya kacau. telinganya sakit. ia sangat ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi. namun lehernya tak bergerak sedikit pun. kaku. ia tak berani. pertanyaan membabi buta menghantam kepalanya. ia harus melihat. mengintip dengan hati-hati. memicingkan mata, agar terlihat jelas pandangan yang ditujunya.
beberapa orang dengan jaket kulit dan kaca mata hitam. yang lainnya berseragam. ya, polisi. memegang senjata. sekitar enam orang. di jalan, terkapar seorang dengan darah segar membasahi aspal. kepalanya seketika pening, melihat pemandangan yang tabu menurutnya. sebuah mobil petugas kepolisian datang menyusul. menghampiri kerumunan petugas dan orang-orang berjaket kulit. kemudian masyarakat berdatangan. melihat apa yang terjadi. rasa penasaran Gugun makin menjadi-jadi. ia ingin sekali melihat. tapi ia tak sanggup melihat darah. akhirnya rasa penasarannya mengalahkan ketakutannya. ia pun bergegas menuju kerumunan.
namun Gugun kaget bukan kepalang. ketika menghampiri kerumunan orang yang melihat mayat yang terbujur kaku tertembus timah panas polisi di bagian perutnya. orang itu adalah...
No comments:
Post a Comment