Saturday, April 14, 2012

Lelaki Hujan

hujan hari ini sungguh lebat. Bagas berlari menghindari guyuran hujan. namun ia terlanjur basah kuyup. memang, bulan ini skala hujan turun sangatlah sering. membuat volume air meningkat drastis dan jalan-jalan seringkali tergenang air menyebabkan banjir. lalu lintas pun jadi semrawut. padahal Jakarta adalah ibukota, tapi kenapa permasalahan banjir seringkali menjadi dilema yang tak kunjung usai. sore ini pun menjadi ajang sali kanan salip kiri oleh pengendara dijalan raya. berharap cepat sampai dirumah dan menyudahi penyiksaan. macet. begitu pula Bagas. walau jarak dari rumah kekantor cukup dekat, tak ayal pengendara dan pejalan kaki menjadi rebut-rebutan. untuk bisa cepat sampai dirumah.
Bagas, seorang lelaki lajang dengan tubuh tegap dan berkulit putih. dengan sedikit bewok menghiasi pipi dan janggutnya. bekerja disebuah perusahaan swasta di jakarta. rumahnya terletak disebuah komplek. tinggal sendiri dan belum beristri. padahal, kalau dibilang mapan Bagas adalah seorang pria yang mapan. dan cukup tampan tentunya.

seluruh bajunya basah kuyup oleh guyuran hujan sore ini. langit yang gelap serta petir yang menyambar-nyambar mengantar Bagas sampai dirumah. ia berharap cepat mendapatkan seorang istri. agar kelak ada yang mengurusinya disaat seperti ini. hujan. seringkali hubungannya kandas ditengah jalan. seperti hubungan yang ia jalani dua bulan yang lalu. Ratna sang kekasih, memilih pria lain yang dijodohkan untuknya ketimbang Bagas. pria yang mempunyai showroom mobil ternyata lebih dipilih Ratna. hati Bagas hancur. berkeping-keping dan tak bersisa. namun tak lama ia meratapinya. ia hanya berpikir kalau dengan Ratna ia tidak berjodoh.
setelah mandi dan bersih-bersih. Bagas sibuk didepan laptopnya meneruskan pekerjaan yang tertunda dikantor tadi. tapi konsentrasinya buyar ketika ketukan pintu terdengar.

"Assalamualaikum" sapa seseorang diluar pintu. terdengar seperti suara seorang wanita. dan ia sangat mengenali suara tersebut. Mbak Putri. tetangga yang dua minggu lalu baru saja pindah kekomplek tempatnya tinggal dan menempati rumah tepat didepan rumahnya.

"Waalaikumsalam" jawab Bagas seraya membuka pintu. memang Mbak Putri yang telah berdiri didepan pintu membawa sebuah mangkuk.
"Lho? Mbak Putri, ada apa ini?" tanya Bagas singkat.
"Iya maaf Gas. saya cuma mau anter bubur kacang ijo aja nih. kebetulan tadi masak agak banyak"
"Kok repot-repot sih Mbak?"
"Nggak ngerepotin kok. ini diambil!" Mbak Putri menyodorkan sebuah mangkuk agak besar berisi bubur kacang hijau masih panas. Bagas ke belakang untuk menaruh bubur dan mengganti mangkuknya dan kembali kedepan.
"Makasih lho Mbak buburnya"
"Iya, sama-sama. saya pamit ya Gas"
"Iya mbak. salam buat Mas Wahyu ya" terus Bagas. namun ada yang aneh dari Mbak Putri. ketika Bagas menyebutkan nama Mas Wahyu, ekspresi muka Mbak Putri yang berubah murung dan terlihat sedih. Bagas memang tak bermaksud menyinggung hati Mbak Putri. ia pun tak tahu apa yang terjadi dengan rumah tangga Mbak Putri. namun Bagas segera memperbaiki kata-katanya.
"Maaf Mbak, kalau saya menyinggung perasaan Mbak Putri"
"Nggak apa-apa kok Gas. kamu nggak salah. saya pamit ya" kemudian Mbak Putri segera bergegas meninggalkan pelataran rumah kecil Bagas.

pikiran Bagas menggelayut. rasa penasaran dengan perubahan raut muka Mbak Putri tadi. bubur kacang hijau yang ia makan tak seenak saat suapan pertama. memang, sejak pindah dua minggu lalu Mas Wahyu yang suami Mbak Putri jarang sekali terlihat. walau tidak memperhatikan dengan seksama. namun Bagas menyadari akan hal tersebut. segera ia membuang pikiran macam-macamnya. Mbak Putri adalah seorang ibu rumah tangga. belum mempunyai buah hati dari pernikahannya dengan Mas Wahyu. cantik. dengan wajah bersih serta kulit putih. rambutnya sebahu memberi kesan ayu dari Mbak Putri. ada perasaan lain yang Bagas Rasakan sejak bertemu dengan Mbak Putri tiga hari yang lalu disebuah pusat perbelanjaan. namun kembali ia buang jauh-jauh perasaan tersebut.
saat itu Bagas sedang meeting dengan seorang investor dari Kalimantan disebuah kafe. ternyata Mbak Putri pun ada di kafe tersebut. duduk dipojok, tertutup tirai penghalang. dengan wajah sedikit murung. namun tetap menyiratkan kesan ayu. Bagas menyadari keberadaan Mbak Purti di kafe tersebut. setelah disapa oleh Bagas, Mbak Putri terlihat menyeka air mata. ada masalah yang dihadapi Mbak Putri. ingin Bagas membantu, namun ia tak bisa berbuat apa-apa karena cincin yang melingkar dijari manisnya. Bagas hanya menyapa sekedar dan berlalu kembali ke meja tempat meeting.

sebulan sudah Bagas tak tahu kabar Mbak Putri. ia pun jarang melihat Mbak Putri membersihkan halaman. terasnya terlihat berdebu. lantainya terlihat kotor tak terurus. apakah Mbak Putri dan keluarganya pindah? pertanyaan makin menggelayut di otak Bagas. ia sangat penasaran. ingin rasanya mengunjungi Mbak Putri untuk sekedar menanyai kabarnya. namun hasrat itu ia urungkan. dikantor pun pertanyaan itu masih menggantung. tanda tanya besar tentang Mbak Putri mengganggu kinerjanya dikantor. akhirnya ia memantapkan diri untuk berkunjung kerumah Mbak Putri hanya untuk sekedar silaturrahmi. sepulang kantor nanti ia berniat kerumah Mbak Putri.
jam tangan Bagas menunjukkan pukul lima sore. hujan kembali turun dengan deras. ia duduk berdesak-desakkan disebuah metro mini. masih dengan niat mengunjungi Mbak Putri. Bagas turun disebuah halte dekat dengan komplek tempatnya tinggal. kembali, hujan membasahi seluruh pakaiannya. ia senang menikmati hujan. titik-titik air hujan terasa damai ketika jatuh diatas wajahnya. seringkali ia berjalan manikmati hujan dengan perasaan senang. serasa kembali ke masa-masa kecil dahulu. berjalan dengan perlahan menyusuri jalan komplek sembari menikmati guyuran hujan. dengan wajah mendangak ke atas langit ia rasakan titik air hujan yang jatuh.

hingga saat langkahnya terhenti. Bagas melihat sosok yang sangat ia kenal. Mbak Putri. duduk bersimpuh menutup muka dengan kedua tangannya didepan gerbang rumahnya. diguyur hujan dan pakaian yang serba basah. Bagas berlalri menghampiri Mbak Putri. tanda tanya besar makin menggelayut dalam otaknya. ada apa gerangan? berlari dengan terengah-engah ia menghampiri Mbak Putri.

"Mbak. Mbak Putri" Bagas menepuk halus pundak Mbak Putri. Mbak Putri masih menutup wajah dengan kedua tangannya. menangis tersengguk-sengguk. Bagas menjadi iba.

"Mbak Putri.." Bagas kembali menegur Mbak Putri. ingin rasanya ia mendapatkan jawaban atas semua ini. atas tanda tanya yang sangat ingin ia buang jauh-jauh. dan Mbak Putri hanya menangis. tetap menangis. disaat semua pertanyaan bergumul menjadi kilatan yang menyambar otaknya, hal yang sangat mengejutkan Bagas.

Mbak Putri memeluk Bagas. menumpahkan tangisannya dipelukan Bagas dalam guyuran hujan sore itu.

Bagas makin tak mengerti. dan Mbak Putri tetap saja menangis tersedu-sedu. air mata yang bercampur air hujan makin membasahai pakaian. apa yang harus Bagas lakukan. Bagas makin tak menentu. hatinya pun bergumul. otaknya tersambar petir. badannya bergetar menahan dingin hujan sore itu. dan Mbak Putri tetap menangis.

"Gas, tolong saya Gas. tolong saya Gas" hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Mbak Putri. kemudian ia menagis lagi. makin sedu.
"Tolong apa Mbak?" tanya Bagas singkat.
"Tolong Gas. tolong saya Gas. bawa saya pergi Gas" jawab Mbak Putri. Bagas makin tak mengerti maksud dari perkataan Mbak Putri.
"Pergi kemana Mbak? tolong apa Mbak?" Bagas kembali bertanya.
"A..a..aku nggak mau hidup dengannya Gas. bawa aku pergi Gas" jawab Mbak Putri terbata-bata.

Bagas sudah menangkap sesuatu yang ganjil. permasalah dalam keluarga Mbak Putri dengan Mas Wahyu. sampai Mbak Putri berbuat seperti ini. namun apa yang harus Bagas lakukan. pertanyaan ini makin buas bersarang di otaknya.

"Bawa aku pergi Gas" hanya itu yang keluar dari mulut Mbak Putri.

kemudian Bagas membawa Mbak Putri masuk kedalam rumah. mendudukannya dikursi. mencoba menenangkan Mbak Putri. Bagas merasa iba dengan Mbak Putri. Bagas beranjak ke dapur rumah Mbak Putri. membuat secangkir teh hangat dan memberikannya kepada Mbak Putri. setelah Mbak Putri cukup tenang, Bagas menanyakan hal yang membuat Mbak Putri sampai duduk bersimpuh dengan menangis dibawah guyuran hujan. langit masih gelap karena hujan. kilatan petir masih menyambar-nyambar. dan hujan makin deras. Mbak Putri menceritakan perihal yang terjadi padanya.

selama ini rumah tangga yang dijalaninya dengan Mas Wahyu adalah kedok. sangat tega Mas Wahyu berbuat seperti itu kepada Mbak Putri. Mbak Putri dimanfaatkan hanya untuk kesenangan semata. harta Mbak Putri-lah yang Mas Wahyu incar untuk bersenang-senang. puluhan juta dihabiskan hanya untuk narkoba dan perempuan nakal di club malam. Mas Wahyu jarang pulang. tidak pernah menafkahi Mbak Putri. hanya harta Mbak Putri yang ia kuras dengan semena-mena. sampai pada akhirnya, Mbak Putri yang jengah melihat sikap Mas Wahyu diceraikan secara sepihak. kekerasan dalam rumah tangga pun kadang terjadi. tak jarang tamparan dilancarkan Mas Wahyu kepada Mbak Putri. hancur sudah mimpi Mbak Putri membangun bahtera rumah tangga yang sakinah dengan Mas Wahyu. sesaat sebelum Bagas datang menolong Mbak Putri, Mas Wahyu datang mengambil barang-barang milikknya dan pergi meninggalkan Mbak Putri.

setelah bercerita panjang lebar, Mbak Putri berdiri. dengan air mata yang masih deras mengalir ia berjalan ke depan pelataran rumah. membasahi dirinya dengan hujan. hujan masih deras. petir masih menyambar-nyambar. Bagas berjalan di belakang Mbak Putri. mengikuti langkahnya. dan ikut membasahi diri dalam guyuran hujan.
menengadahkan wajah ke langit. menikmati tiap tetes air hujan membasahi wajah. membentangkan tangan dengan sukacita membiarkan hujan menyelimuti sore kelabu. mengharapkan harapan baru. Bagas berdiri dibelakang Mbak Putri. ikut menikmati hujan. menengadahkan wajah kelangit. membentangkan tangan.

Bagas meyakinkan dirinya.

"Putri.." panggil Bagas. dan Mbak Putri membalikkan badannya dan berhadapan dengan Bagas. Mbak Putri hanya terdiam.

"Maukah kau menjadi pendampingku disaat suka dan duka. menemaniku saat ku lelah dan merana. menjadi ma'mum di tiap shalatku, dan menjadi ibu dari anak-anakku?"

Mbak Putri masih terdiam. kemudian tangisnya kembali pecah ketika Bagas menyodorkan sebuah cincin milik almarhumah ibunya yang diwariskan kepadanya sebelum meninggal.

Dalam guyuran hujan kupinang kau dengan segenap hatiku.. petir menjadi saksi.. hujan menjadi wali.. dan dengan Bismillah, kuingin kau menjadi istriku

No comments:

Post a Comment