Monday, July 30, 2012

TEMPE, KAULAH HIDUPKU...

tempe...

minggu lalu doi jadi trending topic di negara kita. gimana enggak? makanan sederhana berbahan kacang kedelai ini langka di pasaran. membuat semua kalangan kelimpungan mencarinya. di warteg juga doi susah ditemuin. malah, sebagian survey menjelaskan kalo kita makan dengan lauk tempe akan lebih mahal daripada makan dengan lauk ayam. ayam turun pamor. ia sudah tak jadi primadona warteg-warteg di jakarta. aura bintangnya memudar. dikalahkan oleh tempe yang banyak disebut-sebut makanan kalangan bawah. siapa yang bilang begitu?? berani banget congornya!!!
siapa yang tahan godaan tempe. dia itu bagai artis papan atas di rantai makanan dalam hidup gue. ia membuat siklus rantai makanan menjadi lengkap. bernuansa. sangat natural. elegant. dan mahal. tempe menjadikan makan lebih nikmat. jujur, jika disuruh memilih antara tempe dengan jengkol. jelas gue lebih pilih tempe. jika disuruh memilih tempe dengan ikan sarden kalengan, jelas gue lebih memilih tempe. di potong agak tipis, di celupkan kedalam adonan terigu dan bumbu, kemudian di goreng dalam minyak panas selama beberapa menit. astagaaaaa...!!! itu nikmatnya ngalahin segalanya.




bicara soal ikan sarden kalengan. gue heran campur aduk sama bingung. herannya, kenapa di tiap waktu sahur dirumah gue terkapar indah ikan tanpa kepala dengan saus merah menyala diatas piring alias sarden. bentuknya licin, teksturnya aneh, baunya menyengat, dan mereka rebahan diatas piring tanpa kepala. naas. bukannya benci dengan ikan kalengan itu, jujur atas nama pahlawan revolusi ya. dulu gue doyan mampus sama yang namanya ikan sarden. emang bener ya, sesuatu yang berlebihan itu nggak baik. jadi begini cerita singkatnya:

*backsound suara serigala mengaum* hari itu, gue balik menuju rumah tercinta gue di jl. cabe I no.13 rt 001/07 pondok cabe ilir. saat itu gue duduk di bangku sekolah kelas 2 SMP. udah mulai genit. mulai kenal cewek cakep. tapi belum sadar sama cewek seksi. jadi masih sedikit polos. tiba-tiba perut gue merasakan sesuatu, bergetar hebat. membuat mata berkunang-kunang. gue diam sejenak, memegangi perut yang masih kesakitan. setelah gue sadari, ternyata perut gue lapar nggak ketulungan. getarannya sampe bikin celana melorot. gue buka tudung saji di meja makan. hanya kekecewaan yang gue dapatkan. kosong. hanya beberapa kepala ikan dipenuhi semut nakal sisa kemarin, yang tercecer di atas piring. gue mencari-cari makanan yang bisa gue makan dengan layak. ternyata Tuhan mengutus sekaleng sarden ukuran besar untuk mengobati lapar gue. awalnya, gue lihat kaleng sarden ukuran besar itu di atas rak. memancarkan cahaya menyilaukan. mirip bidadari turun dari pohon jamblang. wuuussshhh. cahaya itu muncul dari balik kaleng berwarna merahnya yang indah. gue terpesona. gue jatuh cinta pada pandangan pertama dengan sarden.
singkat cerita, sarden sudah matang dan memenuhi mangkuk dengan indahnya. asap mengepul dari sajian ini. sarden kaleng ukuran besar ini berisi kurang lebih enam ekor ikan tanpa kepala. tak bisa menahan nafsu bejat akibat kelaparan. segera gue eksekusi seekor demi seekor. lahap. buas. liar. dan ganas. tak puas dengan sepiring nasi, kembali gue sendok dengan semangat. dua sendok besar nasi mampir keatas piring gue. kembali, ikan tanpa kepala itu meregang nyawa dan masuk kedalam mulut buas gue. nikmat. hanya beberapa menit, dua sendok besar nasi telah raib dari piring gue. masih belum puas, gue sendok lagi nasi. hasrat gue malam itu benar-benar buas.
perut gue terisi penuh tiga piring nasi dengan enam ekor ikan tanpa kepala. kekenyangan. namun, bukan nyaman yang gue rasakan karena kenyang. tapi perasaan mula yang menggelayuti. risih. apa gue terlalu rakus? atau terlalu lapar? atau mungkin keterlaluan? yang jelas gue makan terlalu berlebihan. dan kemudian "huuuueeeekkkk.." keluar semua isi perut gue. tiga piring nasi dan enam ekor ikan tanpa kepala keluar. mereka berontak. isi perut gue terlalu penuh. mereka berdesak-desakkan di dalam perut gue. membuat perjalanan menuju sistem pencernaan tidak nyaman. akhirnya mereka memutuskan untuk keluar. ini bagian paling jorok menurut gue. bau amis ikan itu terasa banget.
sejak saat itu dan bahkan sampai detik ini, gue ngerasa mual jika mencium aroma sarden.

hikmah yang bisa diambil adalah, tidak boleh berlebihan dalam melakukan hal apapun. semua ada batasnya, ada aturannya, dan ada hukumnya. jangan berlebihan dalam sesuatu hal. apalagi soal makanan. jangan pernah.
untuk kedepannya, gue berdoa. semoga tempe tetap ada sampai akhir jaman. sampai kapan pun. gue mencintai tempe lebih dari makanan apapun.

TEMPE, KAULAH HIDUPKU...

VIKRY PAMIT :)

No comments:

Post a Comment