Sunday, March 16, 2014

Nikah???

"Duh, ujan-ujan gini enaknya pelukan nih yank!" Ceplos gue. 

"Mau dipeluk??" Jawab sang kekasih. 

"Ya maulah. Masa dipeluk nggak mau sih!"

"Makanya buruan merid. Kita pelukan tiap hari" jawab sang kekasih ketus. 

".............." Kemudian hening. 

Jujur pake banget nih. Kalo ditanya mau merid nggak? Jelas gue mau banget. Siapa sih yg nggak mau merid. Tidur seranjang dengan orang tersayang. Tiap hari berpahala. Nafkah yg kita kasih ke istri pahala. Berkah. 

Namun, permasalahannya adalah gelar sarjana lagi-lagi belum mampir dibelakang nama gue. Belum lagi urusan skripsi yg mengganggu pikiran gue. Membuat makan jadi sering nggak nambah akhir2 ini. Biasanya 2 piring, sekarang jadi satu setengah piring. Biasanya indomie telor pake gorengan bakwan enam biji. Sekarang gorengannya cuma ambil tiga biji. Kan ini pertanda yg kurang baik. 

Wajar jika sang kekasih selalu membahas persoalan merid. Kita pacaran kurang lebih tujuh tahun dengan persentase putus nyambung sekitar 7 bulan. Berarti pacaran kita sekitar 6 tahun 5 bulan. Waktu yg cukup lama bukan? 

Yang lebih menyakitkan, jika temen deket sang kekasih gue mengantar undangan pernikahan. Seketika cemberut. Wajahnya ditekuk kayak dompet akhir bulan belom gajian. Setelah reaksi seperti itu biasanya akan timbul pertanyaan dari dia,

"Kita kapan nih?"

Duuuuaaarrrrr.......!!!!!

Kompor sanuri si tukang nasi goreng meledak. 

Dan biasanya gue jawab dengan perkataan bijak mirip anggota dewan sedang kampanye,

"Insya Allah kita nyusul. Doa aja yg banyak, moga-moga Allah tahu niat baik kita. Amien"

Habis itu pastilah gue mencari obrolan lain. Mengalihkan tentu saja. Daripada diberondong sama pertanyaan soal merid. 

Nggak tau kenapa ya, kata "nikah" bagi gue menjadi kata yg tabu. Asing didengar telinga gue. Kelu jika diucapkan lidah gue. Jawabannya mungkin belum siap bathin. Siap lahir, tentu siap. Bathin ini lho yg kadang masih belum yakin. Terbentur urusan pendidikan mungkin.

Sebagai laki-laki normal dengan kadar lemak yg cukup tinggi, gue berkeinginan menyelsaikan studi gue yg tertunda. Menyelesaikan tanggung jawab gue sebagai anak kepada orang tuanya. Yaitu sarjana. Setelah predikat itu gue dapatkan, mungkin barulah fokus ke tahap itu.

Semoga diberi kemudahan. Amien. 
VIKRY PAMIT

No comments:

Post a Comment