Wednesday, March 19, 2014

Pelampiasan. Aaww!!

Semalam gue sungguh sangat terpukul. Kenapa? Karena adik gue satu satunya yg amat gue sayangi dengan segenap jiwa dan raga, telah lebih dahulu mendahului gue membuat skripsi. 

Tampolan cukup keras. Membuat pipi merah merona bagai dipoles make up. Pipi kanan dan kiri. Kenapa semua ini terjadi Tuhan? Jujur dengan sangat, malu hati ini. Malu wajah ini. Malu diri ini. Jika saja doraemon ada di kehidupan nyata, pasti gue akan titip muka gue dikantong ajaibnya. Barangkali bisa mengobati rasa malu yg teramat sangat. 

Semalam gue di wanti-wanti oleh nyokap
"Tuh, kalah ama adeknya. Adeknya lagi nyusun bab 2!"
"Haaahh????" Gue jawab seadanya. 

Bagai disambar petir abis adzan isya rasanya. 

Lalu??

Lalu lalang jadinya pikiran ini semalaman. Sampe bingung mau makan indomie telor apa makan roti bakar. Biasanya jika ada hal yg mengganggu pikiran, makan adalah cara untuk menenangkannya. Setidaknya untuk rentang waktu 3 jam kedepan. Setelah itu, akan teringat terus. 

Makan memang pelampiasan paling efektif. Pelampiasan paling berhasil. Pelampiasan cukup hebat. Pelampiasan paling mujarab. Bagaimana tidak, jika masalah terus miners datang. Boleh jadi tak berhenti makan.

Sesudah itu, efektif membuat perut tambah buncit. Berhasil membuat lemak makin lebar disekitar pinggang. Cukup hebat menjadikan berat badan naik. Mujarab bikin lo dihindari oleh lawan jenis. 

Ini serius lho! Badan yg tak ideal menimbulkan kesan yg tak enak. Badan yg tak ideal membuat kita tak dipandang lawan jenis. Ah, masa sih?? Beda kasusnya kalo lo anak pejabat atau anak tunggal dari pemilik perkebunan kelapa sawit 23,5 ha di daerah kalimantan. Uang bokap lo bagai kran air yg bocor. Ngalir terus!

Mungkin ada cara lain mengatasi masalah tanpa masalah. Mengatasi masalah tanpa harus makan. Ada caranya. Yaitu, MENULIS. Iya menulis. Lo bisa lampiaskan masalah lo lewat tulisan. Lo bisa curhat disana. Lo bisa cerita. Lo bisa apa pun. Lo bisa jadi orang lain. Dengan menulis, lo bisa jadi penjahat. Dengan menulis, lo bisa jadi bos mafia dengan wanita simpanan sebanyak bulu ketek lo. Dengan menulis, lo bisa jadi pengemis palin miskin di bumi lalu menikah sama putri pemilik kilang minyak di arab sana. Semuanya bisa. Hanya bermodal imajinasi dengan segudang pemikiran gila. 

Bagi gue, menulis adalah pelampiasan cukup efektif. Tak makan biaya, tak makan banyak tempat, hemat waktu dan tenaga. 

So....
Soziz so nais..

So..menulislah dengan otakmu sendiri
VIKRY PAMIT

Sunday, March 16, 2014

Nikah???

"Duh, ujan-ujan gini enaknya pelukan nih yank!" Ceplos gue. 

"Mau dipeluk??" Jawab sang kekasih. 

"Ya maulah. Masa dipeluk nggak mau sih!"

"Makanya buruan merid. Kita pelukan tiap hari" jawab sang kekasih ketus. 

".............." Kemudian hening. 

Jujur pake banget nih. Kalo ditanya mau merid nggak? Jelas gue mau banget. Siapa sih yg nggak mau merid. Tidur seranjang dengan orang tersayang. Tiap hari berpahala. Nafkah yg kita kasih ke istri pahala. Berkah. 

Namun, permasalahannya adalah gelar sarjana lagi-lagi belum mampir dibelakang nama gue. Belum lagi urusan skripsi yg mengganggu pikiran gue. Membuat makan jadi sering nggak nambah akhir2 ini. Biasanya 2 piring, sekarang jadi satu setengah piring. Biasanya indomie telor pake gorengan bakwan enam biji. Sekarang gorengannya cuma ambil tiga biji. Kan ini pertanda yg kurang baik. 

Wajar jika sang kekasih selalu membahas persoalan merid. Kita pacaran kurang lebih tujuh tahun dengan persentase putus nyambung sekitar 7 bulan. Berarti pacaran kita sekitar 6 tahun 5 bulan. Waktu yg cukup lama bukan? 

Yang lebih menyakitkan, jika temen deket sang kekasih gue mengantar undangan pernikahan. Seketika cemberut. Wajahnya ditekuk kayak dompet akhir bulan belom gajian. Setelah reaksi seperti itu biasanya akan timbul pertanyaan dari dia,

"Kita kapan nih?"

Duuuuaaarrrrr.......!!!!!

Kompor sanuri si tukang nasi goreng meledak. 

Dan biasanya gue jawab dengan perkataan bijak mirip anggota dewan sedang kampanye,

"Insya Allah kita nyusul. Doa aja yg banyak, moga-moga Allah tahu niat baik kita. Amien"

Habis itu pastilah gue mencari obrolan lain. Mengalihkan tentu saja. Daripada diberondong sama pertanyaan soal merid. 

Nggak tau kenapa ya, kata "nikah" bagi gue menjadi kata yg tabu. Asing didengar telinga gue. Kelu jika diucapkan lidah gue. Jawabannya mungkin belum siap bathin. Siap lahir, tentu siap. Bathin ini lho yg kadang masih belum yakin. Terbentur urusan pendidikan mungkin.

Sebagai laki-laki normal dengan kadar lemak yg cukup tinggi, gue berkeinginan menyelsaikan studi gue yg tertunda. Menyelesaikan tanggung jawab gue sebagai anak kepada orang tuanya. Yaitu sarjana. Setelah predikat itu gue dapatkan, mungkin barulah fokus ke tahap itu.

Semoga diberi kemudahan. Amien. 
VIKRY PAMIT

Kacang ijo kurang kuah

Malem ini sendiri dirumah petak di kawasan bogor. Perumahan bilabong tepatnya. Heran, sejak kuliah gue hijrah ke kota hujan banyak hal- hal baru yg gue alami. Diantaranya, gue harus meninggalkan keramaian. Ini udah jelas banget bikin kepala mumet nggak keruan. Secara rumah yg gue tempati ini milik om yg telah lama nggak dihuni. Eits, gue nggak bakal bahas soal yg aneh-aneh. Kenapa? Karena gue MALES. Titik. 

Kita bicarakan hal yg positif aja ya kawan. Tinggal dirumah sendiri, membikin diri jadi lebih mandiri. Ooo..ini tentu saja. Selain bikin makan sendiri, bersih-bersih rumah sendiri. Tinggal dirumah seorang diri bikin hidup jadi lebih hidup. Banyak ide-ide cemerlang yg melintas dan numpang lewat di otak. Misalnya, kayak malam ini. Daripada iseng mending ketik-ketik lucu di blog. Entah itu menarik atau nggak buat orang lain. Yang jelas, sebagai seorang yg bermimpi menjadi penulis terkenal tingkat kabupaten, sudah melaksanakan tugasnya. Yaitu menulis.

One more thing..
Saat ini gue emang lagi menikmati hidup dengan kesedirian gue. Membuat kesendirian dan kesepian menjadi gemuruh bagai arak-arakan pawai 17 agustus. Dan ternyata nggak mudah sama sekali. Sulit, bagai membelah durian pake gunting kuku. Jangan dibayangkan pemirsa. Apalagi sampe dicoba.

Ada hal baru yg sering gue coba dirumah petak ini. Contohnya, kemarin tgl 16 maret. Gue iseng bikin bubur kacang ijo. Ditemani sang kekasih, gue mencoba bereksperimen membuat bubur kacang ijo paling enak se-bilabong.
Kacang ijo telah siap, gula merah menunggu, jahe standby, tinggal tunggu aba-aba buat nyemplung ke panci mini motif penyok-penyok.

Modal browsing..

Tanya temen..

Sedikit kesabaran..

Ditambah kepercayaan diri yg tajam setajam silet..

Eng ing eeeengg.........

Jadilah bubur kacang ijo kurang kuah!!

Kacang ijo setengah kilo yg dimasak memuai dengan indahnya didalam panci mini. Bijinya gendut dan pecah di bagian tengahnya. Sementara kuahnya menguap entah kemana. Jadilah bubur kacang ijo kurang kuah. Tapi, memang hasil masakan sendiri lebih nikmat dari masakan orang yg nggak bisa masak ya. 

Setelah di bagi-bagi ke seluruh tetangga. Di panci mini masih menyisakan sekitar 3 mangkuk bubur kacang ijo tanpa kuah. Ya, kali ini benar-benar tanpa kuah. Entah sang panci bocor atau kuahnya menguap ke langit menjadi hujan gue sama sekali nggak tau. Jadilah malam kemarin gue dengan sang kekasih hampir mabuk kacang ijo. Hampir juga kulit gue berubah ijo. Untung bukan kolornya ya. 

Minggu depan entah mau coba eksperimen apa lagi. Gue masih belum memikirkan kemungkinan yg bakal terjadi. Mungkin gue akan masak yg lainnya. Semoga chef juna nggak bakal ngerasa tersaingi

VIKRY PAMIT